Sebuah studi baru menemukan bahwa penanganan hepatitis A dengan vaksin hepatitis A sama efektifnya dengan penanganan penyuntikan imunoglobulin secara tradisional. Berdasarkan hasil ini, US Centers for Disease and Prevention’s Advisory Committee on Immunization Practices sekarang merekomendasikan vaksin sebagai penanganan yang lebih disukai untuk virus hepatitis A, menurut laporan bulan oktober 2007 CDC dalam Morbidity and Mortality Weekly Report.
Pimpinan peneliti, John C. Victor, dengan the Program for Appropriate Technology in Health, mengatakan bahwa temuan utama studi ini vaksin hepatitis A tampaknya bekerja sebanding dengan imunoglobulin setelah terpapar pada virus. Vaksin harus diberikan diantara 2 minggu setelah terpapar virus hepatisi A agar sama efektifnya seperti imnoglubulin dalam pananganannya. Lebih lama dari waktu itu seudah terlambat, kata Victor. Vaksin tampak bekerja karena hepatitis A mempunyai masa inkubasi 28 hari sehingga vaksin punya waktu untuk membangun imunitas selama virus bekerja.
Dalam studi ini, tim Victor secara acak menguji 1.090 orang dari Almaty, Kazakhstan, yang terpapar hepatitis A, diberikan vaksin hepatitis A atau imunoglubulin. Semua partisipan studi berumur antara 2 sampai 40 tahun, menurut laporan studi yang dirilis awal tanggal 18 oktober dari New England Journal of Medicine. Para peneliti menemukan bahwa semua orang dalam trial, 25 yang menerima vaksin dan 17 yang menerima imunoglobulin menunujukkan gejala-gejala hepatitis A. Tim Victor menyimpulkan bahwa penanganan dengan vaksin sama efektifnya seperti imunoglobulin.
Keuntungan vaksin ini adalah mudah tersedia dan lebih sedikit efek samping dibandingkan imunoglubolin. Imunoglubulin menawarkan proteksi hanya 6 bulan, sedangkan vaksin, khususnya jika mendapatkan dosis kedua, akan melindungi seumur hidup, lanjut Victor. Untuk memastikan perlindungan jangka panjang, Anda perlu suntikan kedua.
Karena vaktor-faktor ini, CDC merekomendasikan vaksin hepatitis A untuk melawan infeksi bagi yang berumur 12 bulan sampai 40 tahun yang terpapar virus. CDC juga merekomendasikan orang yang melakukan perjalanan di area endemik hepatitis A untuk mendapatkan satu dosis vaksin. Menurut badan ini, satu suntikan bisa melindungi kebanyakan orang sehat.
Hepatitis A menginfeksi hati dan menyebar melalui kontak dekat, termasuk kontak barang di rumah khususnya pada anak-anak, kontak seksual dan penggunaan bersama jarum suntik pada pecandu obat-obatan terlarang. Juga dapat ditularkan melalui makanan oleh orang yang tidak menerapkan praktek higiene. Dengan kata lain virus ditularkan secara oral-fekal. Gejala-gejalanya lebih berat pada orang dewasa dibanding anak-anak, termasuk kuning, lelah, nyeri perut, hilang nafsu makan, mal, diare dan demam. Tidak ada infeksi jangka panjang, sekali Anda terkena hepatitis A, maka tidak akan terkena lagi. Sekitar 15% orang terinfeksi virus akan mengalami gejala yang lama dan kambuhan selama periode 6-9 bulan, menurut CDC.Anak-anak yang telah divaksinasi hepatitis A sejak 1995. hasilnya, kejadian penyakit menurun secara dramatis.
Menurut Dr. Carol J. baker, spesialis penyakit infeksi dari Baylor College of Medicine, rekomendasi vaksinasi cukup berarti karena vaksin merupakan pilihan lebih baik dibandingkan imunoglobulin. Ini merupakan kesuksesan lian buat vaksin hepatitis A, yang kita tahu bahwa vaksin sebanding dengan imunoglobulin dalam memberikan perlindungan setelah terpapar pada virus. Menurutnya ini penting karena hanya ada 1 produsen imuoglobulin di Amerika Serikat. Jika terjadi sesuatu, kemudian tidak ada upaya lain untuk penanganan untuk orang yang terpapar pada virus. Biaya vaksin sebanding dengan imunoglobulin, dengan tambahan bila dengan dua dosis vaksin, Anda terlindungi seumur hidup.
dari www.kalbefarma.com
Kamis, 21 Agustus 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar